News Update :

Kemenangan Partai Islam Dalam Demokrasi, Ibarat Mendapatkan Hamzah & Umar

Sunday, December 16, 2012

partai islam Kemenangan Partai Islam Dalam Demokrasi, Ibarat Mendapatkan Hamzah & Umar
Menjadi sangat berharga pelajaran yang dipetik oleh Partai Islam di beberapa tempat, seperti juga di Mesir. 

Gejolak awal diantara dekrit konstitusi, diawal pertama pembentukan pada ketentuan yang baku mengenai syariat Islam, atau sebuah prinsip tanpa harus menyebutkan dengan jelas mengenai hukum syariat Islam, menjadi perdebatan yang sengit saat itu di Mesir, lain lagi saat ini yang Umat Islam di Mesir bersatu untuk membela dekrit Presiden.

Sehingga diawal-awal, terdapat demonstrasi beberapa pergerakan Islam di Mesir untuk meminta supaya Presiden Mursi menjadikan hukum di Mesir, mutlak menggunakan hukum Islam.


Lantaran kemenangan Partai Islam, setiap kali kemenangan itu terjadi selalu dihubung-hubungkan dengan cara menggulingkan hukum lama menjadi hukum baru dengan menggunakan hukum Islam.
Ini tentunya sudah menjadi “general mainstream” dari berbagai pemikiran antara umat Islam sendiri bahkan non muslim. Setiap orang berfikir dan berpendapat ketika Islam yang berkuasa, maka hukum lama menjadi tidak berlaku karena digantikan dengan hukum Islam, dan proses itu dengan cepat terjadi.

Tentu menjadi kesalahan dan terburu-buru dalam menganggap hal tersebut.
Ibarat Demokrasi, beberapa umat Islam pun ada yang mengharamkannya sehingga ketika ada umat Islam berjuang melalui demokrasi maka dianggap kufur.

Diantara corak pemikiran ini, arus utamanya yaitu menjadikan Islam berkuasa dan syariat Islam langsung menjadi tujuan didirikannya kekuasaan tersebut.

Mengenal paham seperti ini, menjadi rancu ketika demokrasi dianggap sebagai sistem yang haram. Karena ketika sudah masuk dalam sistem, demokrasi ibarat khamr, yang ia haram dari proses pembuatannya, proses produksi, proses labelisasi, hingga pekerjanya, kantin yanga ada di pabriknya, pun, menjadi seluruhnya adalah haram.

Atau bahkan ada yang lebih ekstrim, dengan menyatakan bahwa demokrasi itu adalah sebuah agama baru, ideologi, millah bahkan hingga dien. Demokrasi dianggap sebagai ideologi atau agama lain yang mestinya tidak boleh umat Islam untuk mengikutinya.

Ini tentu menjadi sengat ektrim, karena bisa jadi yang membuat fatwa seperti itu maka ia juga merupakan pengguna agama demokrasi walaupun ia menentangnya.

Jika demokrasi dianggap ideologi/agama, tentu Islam sangat keras menentang seorang muslim untuk ikut kedalamnya, malah itu bisa menjadi syirik besar hingga musyrik.

Jika demokrasi sudah dianggap ideologi/agama, maka seluruh bagian demokrasi haram untuk digunakannya, bukan lagi proses pembuatan dan produksinya tetapi sekedar “berteman” dengan berada disekitarnya maka Allah Swt akan melaknati seorang muslim tersebut, apalagi sangat aneh jika ada segolongan orang yang berpaham demokrasi adalah ideologi/agama lalu ia masih saja berada dalam negara demokrasi bahkan hingga menggunakan “bapak Demokrasi” seperti Mahkamah Konstitusi dalam alat perjuangannya.

Karena sudah sangat jelas sekali ketika kita menganggap demokrasi itu sebuah ideologi/agama, maka negara demokrasi adalah negara agama, dan ia melingkupi ajaran-ajarannya (sistem perundang-undangannya), tentu sebagai yang berada didalamnya maka secara otomatis mau atau tidak mau orang yang mengharamkan demokrasi tersebut akan ikut serta “menyembah” ritual sistem demokrasi. 

Dengan masih tetap membayar pajak, menggunakan KTP, Sim, dsbnya. Itu semua adalah “ritual” ibadah demokrasi yang mengatur segala sistem pada negara “agama” demokrasi tersebut.

Dan Sim, KTP, Kartu Keluarga, dsbnya. Semua ini bukan lagi sebatas budaya (’urf), tetapi ia diatur dalam sebuah UU negara “agama” Demokrasi, yang apabila ada seseorang tidak mematuhi maka mereka akan terkena hukuman. Proses punishment (hukuman) yang ada dalam UU negara Demokrasi ibaratnya adalah sebuah “kitab suci” agama demokrasi itu sendiri.

Karena itu jika, ada orang beranggapan demokrasi adalah ideologi dan agama. Maka semestinya orang-orang seperti ini tidak hidup dalam negara demokrasi, karena ia akan menafikkan fakta mengenai hal tersebut. Jika ada yang beranggapan “Bumi ini milik Allah,” dan setiap orang bisa tinggal dimanapun, jika ini yang menjadi alasan. Maka tentu karena sebuah negara demokrasi membolehkan setiap orang untuk tinggal didalamnya, maka orang berpaham demokrasi itu ideologi/agama boleh-boleh saja ia tinggal. Tetapi orang seperti ini akan mendapatkan dosa-dosa setiap detik, menit, jam dan hari-harinya lantaran ia berada dalam naungan “agama” demokrasi.

Tentu orang yang beranggapan demokrasi adalah sebuah ideologi/agama, maka orang seperti ini takalluf dalam memahami Islam, sebagaimana menurut Imam Nawawi “takalluf adalah perbuatan dan perkataan yang dilakukan dengan penuh kesulitan dan kurang terdapat kemaslahatan di dalamnya.”

Rasulullah Saw bersabda, yang Insya Allah “Kami (para shahabat) dilarang untuk takalluf ( perbuatan membebani diri).” (HR. AlBukhari)

Atau hadits yang lain, insya Allah Rasulullah Saw bersabda “sesungguh bukanlah termasuk umatku yang memberat-beratkan (takalluf) dalam beragama.”

Kemenangan Demokrasi

Kemenangan demokrasi pada Partai Islam, selayaknya tidak dimaknai akan dibaliknya sebuah hukum negara lama kepada hukum negara yang baru, syari’at Islam dengan secara cepat.

Tetapi mestinya kemenangan demokrasi dari Partai Islam bisa menjadi sebuah pemicu atas kemudahannya dalam berbagai fasilitas guna memperjuangkan Islam lebih baik lagi.

Sebagaimana Islam mendapatkan Hamzah dan Umar, kemenangan umat Islam ketika mampu merebut hati Hamzah dan Umar untuk ikut kedalam barisan umat Islam, menjadi benar-benar sebuah kekuatan yang mampu menggetarkan para musuh-musuh Islam kala itu.

Kita lihat bagaimana ketika Hamzah dan Umar masuk kedalam Islam tidak serta merta langsung mampu menghancurkan berbagai berhala, patung-patung, khamr, perzinaan yang saat itu masih saja tersebar luas.

Tetapi ada era baru ketika Hamzah dan Umar masuk kedalam Islam, yaitu Islam mampu mendapatkan kekuatan dan kewibawaan dihadapan para pemimpin Quraisy. Islam tidak lagi berada dalam penyiksaan dan penindasan bahkan pada masa itu Islam tak lagi disebarkan dengan sembunyi-sembunyi, tetapi dengan terbuka dan kebebasan untuk melakukan ibadah serta berdakwah.

Nah disinilah titik poin yang terpenting, yaitu Islam mampu menjaga kewibawaan dan tak lagi dalam masa penyiksaan serta penindasan bahkan Islam berani untuk mendatangi Ka’bah untuk thawaf dan beribadah, yang dulunya merupakan tempat yang susah untuk dikunjungi.

Malahan Islam tak lagi takut dengan berbagai ancaman, hingga suatu kali ketika Rasulullah Saw beribadah disekitar Ka’bah, Rasulullah Saw dicekik oleh seseorang, hingga akhirnya Abu Bakar langsung menghantam orang tersebut. Ini belum pernah terjadi sebelum masuknya Hamzah dan Umar kedalam Islam. Umat Islam semakin berani untuk membalas perlakuan Quraisy jika ditemukan kezhaliman pada umat Islam.

Itulah keuntungannya, sebagaimana dahulu sebelum masa-masa Partai Islam ikut demokrasi. Di Indonesia sekalipun, pada masa Orde Baru kita tidak akan menemukan seorang muslimah yang berani teguh mempertahankan jilbabnya pada foto KTP, SIM, Ijazah, dsbnya.

Tetapi dimasa Partai Islam ikut pemilu, sedikit demi sedikit Islam mulai berkembang, ia mulai bebas bergerak dan tak lagi perlu takut dianiaya oleh aparat. Pengajian sudah mulai marak, tak perlu lagi sembunyi-sembunyi, wanita juga tak perlu takut untuk tetap mempertahankan jilbabnya ketika foto KTP, SIM, Ijazah, dsbnya.

Berbagai Perda mulai banyak yang bernuansa syari’at Islam walaupun belum mutlak syari’at Islam.
Ini adalah hasil dari ketika Partai Islam mampu untuk memberikan kontribusi terhadap Islam di Parlemen.

Kemenangan Partai Islam bukan serta merta akan menggulingkan hukum yang lama digantikan dengan langsung hukum yang baru, syari’at Islam.

Karena semestinya Syari’at Islam itu bukan hanya sekedar sebagai sumber hukum saja, tetapi mestinya ada pendidikan yang diterapkan terlebih dahulu. Kedatangan syariat Islam bukan untuk menghukumi tetapi melindungi dan memberikan kemaslahatan, cara awal memberikan kemaslahatan itu yah tentu dengan mendidik masyarakat terlebih dulu agar senantiasa mencintai Islam.

Sebagaimana menurut Imam Al Syathibi mengenai tujuan pokok Syariat Islam, yaitu pemeliharaan agama, jiwa, keturunan, harta dan akal.

Menjadi sangat naif sekali ketika kita menginginkan agar Partai Islam memenangkan sebuah pertempuran politik hanya untuk sebagai labelisasi dalam formalisasi hukum Islam. Ini merupakan bentuk yang terburu-buru dan sangat naif sekali dikarenakan menafikkan kondisi masyarakat. Jika ini dilakukan, tentu akan menjadi benturan-benturan yang kuat ditengah-tengah masyarakat.

Abu Hurairah mengatakan bahwa Nabi saw. bersabda, “Sesungguhnya agama ini mudah, dan tidak akan seseorang memberat-beratkan diri dalam beragama melainkan akan mengalahkannya. Maka, berlaku luruslah, berlaku sedanglah, bergembiralah, dan mintalah pertolongan pada waktu pagi, sore, dan sedikit pada akhir malam.”

Menilik kembali ketika Rasulullah Saw mampu menaklukkan kota Mekkah, Rasulullah tidak langsung menerapkan syari’at Islam didalamnya. Rasulullah ternyata masih membutuhkan waktu untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat di Mekkah waktu itu.

Tercatat bahwa Mu’adz bin Jabal yang diutus oleh Rasulullah Saw untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat Mekkah pada waktu itu. Walaupun Islam sudah menguasai Mekkah, dan Mu’adz bin Jabal diutus untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat Mekkah. Masyarakat Mekkah sendiri juga masih menganut kebudayaan jahiliyah, yaitu bertawaf sambil bertelanjang bulat, tanpa sehelai kain menutupi dan itu dilakukan baik pria maupun wanita.

Pemerintahan Islam yang telah berkuasa di Mekkah saat itu, tidaklah menjadikan Syari’at Islam langsung diterapkan, butuh waktu 1 tahun Mu’adz bin Jabal berada di Mekkah. Lantaran dirasa masih kurang oleh Rasulullah Saw mengenai pemahaman masyarakat kota Mekkah kala itu, Rasulullah memerintahkan Mu’adz untuk tetap berada di Mekkah hingga sekitar 2 tahun lagi setelah itu Mu’adz diutus ke Yaman. Dan pada masa itu masih tidak sedikit orang yang bertawaf dengan telanjang.

Hal ini menjadi sebuah pelajaran penting, bahwa Rasulullah Saw bukanlah seorang yang keras dalam menerapkan Syari’at Islam, tetapi seorang yang mampu memberikan kebijaksanaan yang tinggi dalam masalah Syari’at Islam pada waktu penerapannya di Mekkah. Bisa kita pahami, ketika itu Rasulullah Saw masih hidup butuh waktu sekitar 3 tahunan untuk memberikan pengertian mengenai Islam kepada masyarakat Mekkah. Dan tak tanggung-tanggung, seorang Mu’adz bin Jabal yang menjadi sahabat Rasulullah, langsung diperintahkan untuk mengajari masyarakat Mekkah. Sekali lagi, butuh waktu 3 tahunan.

Sekali lagi, kemenangan partai Islam dalam demokrasi belum tentu harus langsung menjadikan syari’at Islam sebagai pondasi formalisasi pada hukum negara, ia membutuhkan waktu sebagaimana Rasulullah saw saat peristiwa didalam perjalanan Sirah-nya.

Tetapi dengan adanya kemenangan Partai Islam dalam demokrasi, ini sebagaimana kemenangan Islam yang telah mendapatkan Hamzah dan Umar, sehingga Islam mampu bergerak lebih bebas dan berani serta mempunyai jaminan kebebasan. Hal inilah yang bisa kita rasakan.

Ingatkan peristiwa Orde Baru? Kita akan susah menemukan berbagai tempat pengajian dengan terbuka melainkan harus melalui berbagai proses yang panjang perijinannya, mulai dari Kodim, Babinsa, Polres, polsek, camat, lurah, semua itu harus diawasi oleh inteligen-intelegen daerah.
Ibaratnya, masa Orde Baru adalah masa “ketika tembok mampu mendengar dan berbicara”. Kita tidak akan menemukan orang bebas dengan berkata, apalagi demonstrasi.

Alhamdulillah, seluruh umat Islam akhirnya menikmati demokrasi, baik yang membolehkan maupun yang mengharamkannya. Karena seluruh orang pada saat ini mampu menyuarakan hak-haknya, bahkan Demokrasi sendiri melindungi hak kelompok yang telah mengharamkannya. Coba kita lihat di Indonesia, adakah orang yang menghina, mencaci demokrasi tetapi mereka ditangkap polisi? Tidak bukan, tetapi lain lagi ketika menghina, mencaci kepala negara ataupun orang lain, bisa masuk delik aduan atau bahkan subversif.

Jadi, lalu kenapa kita tidak berusaha untuk segera meraih Hamzah dan Umar? Mesir sudah meraihnya, lalu Indonesia bagaimana?[suaranews]
Anda sedang membaca artikel tentang Kemenangan Partai Islam Dalam Demokrasi, Ibarat Mendapatkan Hamzah & Umar, anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda, namun jangan lupa untuk meletakkan link Kemenangan Partai Islam Dalam Demokrasi, Ibarat Mendapatkan Hamzah & Umar sumbernya.

Artikel Terkait Dunia Islam ,Global

Share this Article on :

0 comments:

Post a Comment

 

© Copyright Suara Keadilan 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.